Saya sering mendengar perkataan orang-orang yang mengatakan bahwa menulis itu susah. Dan saya juga sering mendengar perkataan mereka yang mengatakan bahwa menulis itu mudah, bahkan tidak sedikit kita dapatkan buku-buku yang berkata tentang menulis itu mudah, Hal ini diungkapkan salah satu penulis senior yang bernama Joni ardianata. Menurut beliau dunia kesusastraan memegang kunci sebagai gerbang untuk mengenal bacaan, mengenal sistematika tulisan, dan merangsang daya fikir untuk bertanya, sehingga kesusastraan mendapatkan tempat yang cukup terhormat di banyak Negara-negara maju. hal ini sependapat dengan bapak hernowo yang merupakan salah seorang yang berpengaruh dalam dunia kata. dalam salah satu karangannya beliau yang menyatakan bahwa membaca dan menulis itu mampu merangsang neuron kita untuk berkembang lebih leluasa lagi untuk berpikir. Di lain forum, sebagian juga berpendapat bahwa dengan menulis kita dapat melegakan hati dan pikiran, dengan menulis kita dapat berdakwah melalui tulisan, dan dengan menulis pula seseorang dapat mendapatkan apa yang diinginkannya, inilah pernyataan mereka yang telah merasakan bagaimana indahnya hidup dengan menulis. Seperti yang diungkapkan oleh kak afifah afra bahwa dengan menulis orang bisa pintar, berdakwah lewat pena, berpikir lebih sistematis, memperoleh kepuasan batin, mengendalikan emosi, empati, awet muda, banyak teman, dan dengan menulis pula orang bisa berpenghasilan. Pada dasarnya menulis itu memang mudah, hanya saja bagi mereka yang belum mencoba langsung mengklaim bahwa menulis itu adalah perlakuan yang susah. Sikap seperti ini yang harusnya dihilangkan dari dalam diri manusia, memandang suatu masalah hanya dari luarnya saja tanpa melihat bagaimana yang terjadi didalamnya. Padahal para penulis yang mereka kenal sekarang juga berawal dari tulisan keseharian mereka atas ungkapan hati mereka yang terpendam yang dikatakan diary, yang mana itu dapat dikatakan tidak sulit, dan bagi saya hal itu patut untuk dicontoh dan direalisasikan sebagai bahan pertimbangan untuk memulai menulis, sebagai bentuk perubahan dalam diri. Menurut saya menulis itu memang menyenangkan, dengannya tidak ada konteks kepenatan baik pikiran maupun hati, karena semua itu telah tertuangkan kedalam selembar kertas putih dengan tinta berwarna hitam disaat kita menuliskannya, sehingga tidak ada bekas yang tertinggal didalam pikiran maupun hati. Inilah yang membuat saya untuk memulai perubahan dalam diri saya khususnya, karena memang banyak manfaat yang didapatkan ketika menulis itu dijadikan suatu kebiasaan ataupun hobi. Namun bagi mereka yang tidak hobi, menulis bisa juga direalisasikan untuk membuang rasa yang mengganjal dihati, yang itu justru akan membawa petaka baginya nantinya jikalau tidak dibuang jauh-jauh. Dan bila perlu tidak hanya sampai pada hobi maupun kebiasaan, akan tetapi dipersilahkan untuk mempoles untuk ditindak lanjuti kedalam publikasi. Ini yang dilakukan sebagian dari mereka para penulis. Mereka terus mempoles dan terus belajar diberbagai tempat, dari buku-buku secara otodidak, maupun  di lembaga-lembaga maupun komunitas yang terjun dalam keahlian tulis- menulis.

Kini di Indonesia sendiri telah memiliki tidak sedikit lembaga yang yang terjun dalam dunia tulis-menulis, lembaga yang tidak hanya dapat digunakan sebagai ajang kepenulisan yang bersifat fiksi maupun non fiksi, akan tetapi menulis juga dapat dijadikan sebagai ajang dakwah islam yang sudah sangat minim dikalangan masyarakat Indonesia, dakwah bukan hanya public speaking saja, dakwah bukan hanya bersilat lidah didepan warga, atau mungkin mengadakan pengajian, akan tetapi dakwah bisa melalui untaian-untaian mutiara  tulisan. Bahkan dengan tulisan penulis lebih leluasa mengungkapkan expresi-expresi yang ada dipikiran, hal ini juga seperti yang dikatakan kak afifah afra “jika kita terbiasa menuangkan pendapat kita dalam bahasa tulisan, maka pemikiran-pemikiran yang kita miliki, akan tersebar lebih massal. Jika pemikiran kita adalah sebuah usaha ber-amar ma’ruf nahy munkar, maka target sasaran kita juga akan lebih meluas lagi, tanpa harus bersusah payah lagi menemui mereka”. salah satu bukti nyata adalah forum lingkar pena (FLP) yang telah lama dirintis oleh mbak Helvitiana Rosa, “Forum Lingkar Pena adalah hadiah dari Allah untuk Indonesia” itulah yang dikatakan pelopor kesusastraan Indonesia Taufik Ismail. FLP diharapkan akan menjadi wajah Indonesia kedepan. didalamnya dibentuk para generasi the agent of change, yang akan membangkitkan kembali kesusastraan yang dianggap salah satu barometer kemajuan suatu Negara. jadi memang kegiatan menulis adalah bukti nyata yang harus diperhatikan. Dan Ini juga sebenarnya alasan mbak Elvi untuk mendirikan komunitas ini, sebagai bukti apresiasi terhadap melorotnya kehidupan sastra Indonesia saat itu, dan kini FLP telah berkembang lebih dari di 127 kota dalam negeri dan beberapa diluar negeri dengan beribu anggota dan ribuan karya yang dihasilkan oleh FLP itu sendiri. Jumlah  ini tidaklah sedikit dibandingkan lembaga yang lainnya, dan diharapkan jumlah yang tidak sedikit ini  benar-benar mencetak generasi the agent of change, yang akan menjadi estafet kekuatan bangsa untuk mencapai kemajuan Negara esok.

 

tulisan ini saya tulis sebagai persyaratan untuk masuk FLP yogyakarta

hahahahahaaa