Tegak sigap memancarkan aura gagah,
mengelu-elukan tombak kuasa mu,
Bergerak lurus sepanjang belahan jalan kekerajaan.
Pertanda perjuangan telah dimulai.

Selama berabad-abad,
itulah ketegaran serta kehalusan,
kebenaran tertengger dalam cengkraman tangan
kromo inggil, alus dan ngoko.

Selama berabad-abad,
Benang halus berbaris-baris terlubangi-
cahaya keindahan,
yang berani menari-nari dipelupuk selayang pandang.

Selama berabad-abad,
mengais desir-desir pasir budaya,
meraup kesempurnaan berbangsa.

Tidak kah kau tahu kawan…?
tombak kuasa mu menjadi symbol keagunganmu?.

Tidak kah kau tahu kawan…?
perdamaian menelanjangimu dalam kesunyian? .

Tidak kah kau tahu kawan,,,?
Kebudayaan… itulah penyebabnya.
kau kulaikan amarahmu dan bersujud dalam keheningan.

Kuasa keagungan nya menjadi tanda,
kuasa tombak yang mengekang
belenggu hasrat masyarakat,
Bak padi pasrah dalam mengemban
kewajibannya yang terpaksa,

hingga akhir nya merasakan…
kesempurnaan kehidupan nyata yang menyakitkan.

Namun kepasrahan bukan gaya semata yang menyongsong
kesusahan yang tak memiliki hak dalam menyikapi
lebarnya pertikaian alam,
karena tombak itu penghujung kebangsaan.

Aku ingin berdiri diatas kuasa tombakmu selayak menjeritkan,
“apakah guna bangsamu”?
guna yang menyeruput dalam penghujung keletihan,
tanpa menyadarinya sekelumit kepatuhan?

Dengan sayap-sayap kehidupan,
aku ingin terbang menuju kuasa tombakmu,
yang melambangkan kesempurnaan kuasa,
sambil dilapisi kabut putih aku terhalang olehnya,
apakah yang ada dibalik itu wahai kehidupan?

Ya, aku mengerti.
Keagungan dan kepatuhan telah menelanjangiku
dalam kesunyian dan hanya itulah….
yang menerkam bangsa dalam kepatuhan kehidupan.

Sekali lagi,,
aku mengerti secarik benang berbaris…
mengajariku keindahan selayang pandang,
bertajukkan kegigihan alam bawah,
membelah aura menuju tujuan pandangan.

 

tulisan ini mau saya ikutkan dalam ajang puisi jogja
namun saya kehilangan infonya
hahahahahaaaaa