Namaku Dewi sartika…

Mereka bilang aku terlahir dari kalangan orang tak mampu. Ayahku bekerja sebagai buruh serabutan, sedang ibuku menjadi pemulung sampah, yang menjadi masalah bagiku uang dari yang didapatkan mereka tak mampu membiayaiku melanjutkan sekolah ke jenjang sekanjutnya. Jangankan untuk biaya sekolah, untuk makan sehari-hari pun terkadang sosok wanita tua ini harus mengulurkan tangan keriputnya memohon kerendahan hati pemilik warung sebelah dekat gubuk tempat tinggalku untuk meminjamkan uangnya. Tetapi hal itu tidak menghalangi keinginanku untuk bisa melanjutkan ke tingkat sekolah menengah atas, bukan itu jalan satu-satunya untuk bisa melanjutkan impianku mendatang.

“Siapa sangka tuhan itu ada, yang pasti melihat apa yang dikerjakan setiap kita yang mau berusaha dan berserah kepadanya” pikirku. Bukan demi mewujudkan keinginanku lagi, kalau ada kata harapan dan keinginan diatas “demi” mungkin itulah yang akan kugunakan. Setiap harinya aku membantu ibuku mencari sampah-sampah yang masih bisa dipergunakan untuk didaur ulang. Sedang ayahku dia tetap harus berusaha sendiri ditemani teriknya matahari yang membakar kulitnya yang kian melegam. Tidak akan menjadi masalah lagi, memang begitulah pahitnya kehidupan yang harus aku dan keluargaku derita saat ini, ditemani aroma-aroma yang kian menyengat menusuk kedalam hati bak malaikat mukar-nakir yang terus mengikuti keberadaan kami melaksanakan tugasnya dari Tuhannya. Aroma yang semakin lama semakin merajalela dikalangan para pemulung sampah, dicampur aduk dengan segala jenis bahan makanan yang kian membusuk. Jikalaulah hati ini mampu berkata, tak tahu apa yang akan diteriakkan olehnya, karena dia juga merasakan aroma yang kuhirup saat itu juga. Ini hal yang dianggap biasa bagi orang-orang yang sederajat kami. Resiko yang akan kami hadapi juga bukan hal yang bisa dianggap sepele, tifus, munmen, muntaber, malaria, demam berdarah dan lain sebagainya sudah menjadi tantangan bagi kami yang harus kami hadapi dan nikmati.

Kini matahari mulai mengintip membusungkan dadanya dengan bangganya, seolah dialah yang berkuasa karena telah menemani pagi manusia untuk mejalankan aktivitas mereka, diiringi kicauan burung yang riang, kicauan yang tak ada habis-habisnya, kicauan persahabatan yang begitu eratnya dikalangan mereka, singgah diranting pohon dan dedaunan hijau menyegarkan, mengingatkanku untuk segera berangkat memungut sampah. Tak ada cara yang lain yang harus dilakukan demi sesuap nasi, memunguti mereka para penampung rezeky keluargaku tanpa ada yang tertinggal. Bahkan aku harus menyerupai induk ayam yang juga mengkais-kais demi mendapatkan kebutuhannya, lucu rasanya jika seorang manusia harus menirukan tingkah dan kelakuan si induk ayam yang mencari kebutuhan untuk menghidupi anak-anaknya, tapi itulah kenyataan yang harus kuterima saat ini. Mungkin kalau bukan karena tingkah ayam itu aku dan keluargaku tidak akan bertahan hidup.

Semakin lama aku dan ibu berjalan, mengantarkan kami sampai pada suatu perumahan yang sudah taka asing lagi di ibu kota negeri ini. Pondok Indah. Dari kalangan artis sampai pengusaha terkaya ada disini. Aku berjalan menuju tempat sampah berikutnya, terletak di samping gerbang rumah yang cukup megah, aku terhenti sejenak, merenung terkagum dengan konsep arsitektur ala eropa ini yang sangat aduhai menyihirku.

”alangkah bahagianya jika orang tuaku memiliki rumah semegah itu, pasti aku bisa makan enak, aku juga bisa bersekolah tanpa harus memungut-mungut seperti ini” harapku.

Beberapa menit kemudian aku terbangun dari lamunanku dan segera mengais-ngais kembali sampah itu. Dari jarak 10 meter dari pagar rumah itu aku melihat sekilas seorang bapak berpakaian rapi, berjas, berdasi, seorang anak memakai seragam abu-abu putih keluar dari rumah itu kemudian masuk sebuah mobil mewah. Mobil itu keluar dari garasi terus melaju pelan keluar pagar, tak sengaja gerobak tempat sampah yang baru ku kais menggelinding dan menghalangi jalan mobil itu. Pemuda kaya itu spontan marah tanpa batas, menghentikan mobilnya dan keluar menghampiriku.

”hai anak gembel kamu punya mata nggak sih?? Singkirin tu gerobak busuk dari jalan kami!!”.

Aku bodoh sekali, kesalku. Kenapa aku tidak langsung pergi sebelum dia keluar dari mobilnya. Anaknya tak mau ketinggalan. Dia juga ikut turun.

“Dasar anak orang kaya, anak dan ibu  sama saja”. Pikirku.

Makian dan cacian sudah hal yang biasa bagi keluargaku. Memang itu lah mental yang harus dipertahankan. Tak semua orang siap akan hal itu. Aku memakluminya jika anak itu juga ikut memaki dan mencaciku. Mungkin mereka belum pernah merasakan bagaimana hidup diposisi seperti ini. Mereka yang hanya mengandalkan harta warisan, kekayaan dan kemegahan diawal akan cenderung menghakimi kami bawahannya. Dan itu hal yang wajar bagi mereka yang kaya, namun ada sesuatu dibalik hal itu semua. Dan ini fakta yang harus dibuktikan.

”sudahlah pa, buat apa diladeni anak gembel macam itu, ntar aku telat ke sekolah nih!!”. Kata anak itu.

“huh anak manja” cetusku pelan. Sambil menyesali kecerobohanku.

Terik kini tepat diatas kepalaku, aku harus beristirahat dan mencari tempat berteduh. Aku berdiam dibawah pohon rindang sekitar perumahan itu sejenak, meneguk sebotol air putih yang ibu siapkan sebelum keberangkatanku tadi. Setelah jatuh cinta pada tegukan pertama, aku bangkit dan ditemani lagi teriknya panas mencari musholla untuk melaksanakan sholat dzuhur. Aku yakin kesuksesan tidak hanya bisa diukur dengan duniawi saja. Asumsi ini pulalah yang mengarahkanku agar tetap berserah diri dan terus berusaha untuk keinginanku melanjutkan kembali pendidikanku.

Sekiranya pendapatan kali ini merasa sudah cukup buat bekal makan malam nantinya. Ibuku mungkin juga sudah pulang dari kawasan yang biasa dia lewati. Kesepakatan dengan ibu memang merencanakan hanya sampai waktu dzuhur saja. Karena memang ini bukan pekerjaan yang minoritas. Takut terjadi hal yang tidak diinginkan nantinya, apalagi ini ibukota Negara, sangat kejam sekali. Mungkin orang akan bangga dan sangat berkeinginan pergi ke ibukota Negara ini. Namun tak banyak diantara mereka yang tahu akan kejamnya kehidupan disini. Banyak orang hanya memandang sesuatu itu dari kulitnya saja, tanpa mengetahui bagaimana dibelakangnya. Banyak orang hanya melihat menara itu dari bawah langsung keatas, dan cukup sampai disitu dan mereka mengambil keputusan. Yang seharusnya dilakukan adalah menelusuri menara itu dari lantai pertama sampai terakhir lalu mengambil kesimpulan tentang menara itu. Aku harus segera pulang, dan menukarkan sampah-sampah itu menjadi kebutuhan yang diperlukan untuk malam nanti. itulah tujuan utama dari kerja yang menirukan induk ayam tadi.

Sesampaiku di rumah, sebuah tas besar sudah tersusun rapi dihadapan pintu dan segera diangkut. Dibelakang, ibu ternyata sudah pulang sebelum aku sampai, tapi aku agak sedikit heran melihat beliau yang sedang mengemasi pakaiannya.

“lho, Ibu mau ke mana?”, tanyaku.

“ibu dan ayah mau menjenguk nenekmu yang sedang sakit parah, anakku…ibu dan ayah pergi cukup lama, sambil merawat nenek, ayah juga berencana mencari pekerjaan yang lebih baik. doakan kami ya nak,,,!”.

Tak terasa air mataku mengalir dengan deras. Bagaimana tidak, aku harus tinggal sendiri dengan beras sisa hari-hari yang lalu, situasi seperti ini memang tidak memungkinkanku untuk ikut bersama mereka, masih ada barang berharga kami yang harus aku jaga. Rumah. Meskipun hari begitu cerah dengan matahari, tapi yang kurasa tetap saja awan gelap kelabu yang menemaniku mengantarkan kedua orang tuaku ke stasiun terdekat. Siapa yang ingin berpisah dengan orang yang menyayanginya dan dia sayangi walaupun dalam waktu yang sangat singkat?. Tapi pahit ini yang harus kurasakan. Mereka juga tak rela meninggalkanku, tapi mereka juga masih punya tanggung jawab kepada orang tua mereka dengan kondisi yang

sangat kritis seperti saat ini. Aku tak bisa mencegahnya. aku hanya bisa berdo’a semoga Tuhan memberikan jalan yang terbaik buat kami.

Tak terasa pagi kembali menyambut hari-hariku yang pahitnya tak kepalang. seperti biasa yang menjadi kronologi tetap aku segera pergi mencari sampah yang akan menjadi nafkah. Kini aku harus berpindah dari perumahan elite itu, aku merasa tempat itu kurang cocok bagiku. Aku berpindah kesuatu jalan yang tak ku tahu apa dan dimana jalan itu. Berulang kali sambil mengais nafkah, mataku tertuju pada sebuah bangunan di seberang jalan tempatku berdiri. Terpampang di beberapa balio dan gapura sekolah itu SMA HARAPAN BANGSA, sekolah yang tak asing lagi ditelinga penduduk ibukota, sekolah favorit yang banyak dibicarakan orang-orang dan diimpikan untuk melanjutkan pendidikan didalamnya.

”alangkah bahagianya anak-anak yang bisa sekolah di sini”, gumamku.

Lalu lalang kenderaan dijalan ini tidak begitu padat seperti biasanya kota ini. Beberapa mobil dan motor berjalan lancar kearah mereka tuju. Tepat disaat mobil innova V hitam berplat B234JK meluncur kejalan depan SMA itu dari tikungan yang beberapa meter dibelakangku. Seorang anak lelaki, sepertinya murid SMA itu ingin menyebrangi jalan itu, firasatku. terlihat olehku saat ia menoleh kiri dan kanan. Dan benar. Sebuah mobil sedan menyalip dari belakang mobil innova V hitam itu dan,

”AWAAASS!!!”. Aku cepat menghampiri dan mendorong anak itu. Kedua mobil itu juga berusaha rem mendadak, dan Alhamdulillah tidak ada yang terluka dari anak itu, hanya saja tanganku tergores terbentur pinggiran aspal.

Aku sempat dibawa ke ruang klinik sekolah itu dalam keadaan tidak sadar. Senang sekali rasanya bisa menghirup udara sekolah ini. Aku melihat sosok yang pernah kulihat sebelumnya disaat aku sadar diri. Satria. Anak itu berada disampigku, spontan dia ingin berterima kasih kepadaku dan ingin balas budi suatu saat nanti. Dia anak orang kaya yang saat itu mencaci-makiku, ternyata dia termasuk salah seorang murid di sekolah ini. Tapi aku tak hiraukan itu semua, aku harus pulang kerumah.

*****

Tak tahu apa yang kurasakan, hanya saja aku merasa perasaanku tidak seperti biasanya, spontan aku ingat ibu dan ayahku disana yang menjaga nenek. Ada apa dengan mereka?, perasaanku dihantui oleh diriku sendiri, tidak ada yang menghalangi kita untuk bisa melakukan sesuatu kecuali diri kita sendiri. Aku tepis segala pikiranku yang tak benar itu. aku harus sampai rumah dulu, mengingat masih ada pasok makanan, aku tak perlu seharian mencari sampah-sampah itu. sesampaiku di depan rumah, ternyata pak RT sudah duduk santai di depan rumahku. Ini juga menambah beban pikiranku jadinya, baru kali ini pak RT berkunjung jam segini. Aku kembali bertanya-tanya akan kedatangan pak RT itu.

“assalamualaikum, eh pak RT, maaf pak baru pulang, ada apa ya pak? Kok tumben jam segini datang kerumah” kataku.

“rumah kalian kok sepi, ibu dan ayah kamu kemana?”

“oh ibu sama ayah pergi pak ke tempat nenek, jenguk nenek sakit parah katanya. Ayo pak silahkan masuk” ajakku.

“eeh tidak perlu repot-repot Tika, bapak cuma mau nyampein aja amanah dari pak lurah, bahwa kita akan mengadakan perbaikan jalan kawasan kita ini, dan mau tidak mau rumah kalian ini akan disingkirkan, karena kebetulan rumah kalian tepat di garis yang akan dibuat parit nantinya, tapi tenang saja, rumah ini akan diganti rugi dengan sejumlah uang yang setimpal dengan rumah ini, dan keputusan ini sudah mutlak, ayah dan ibu kapan pulangnya ?”

“kurang tahu pak, yang pastinya sampai nenek sehat kembali, terus pak saya tinggal dimana? Apa tidak bisa ditunda sampai ayah dan ibu saya pulang saja pak, lagian kan belum ada kesepakatan dari ayah dan ibu, bapak tidak bisa seenaknya saja dong menggusur rumah kami begitu saja”

“saya paham maksud adek, tapi bapak hanya menyampaikan amanah dari atasan saja, adapun tempat tinggal sartika, kami telah menyiapkan tempat tinggal sementara di rumah warga sekitar, karena bukan hanya rumah ini saja yang harus disingkirkan, tapi ada beberapa yang lainnya juga. Dan ini segera berjalan secepatnya, dan masalah ibu dan ayah kamu nanti bapak yang akan menghubungi dan memberi tahu mereka”.

Oh Tuhan, haruskah hanya orang yang tidak mampu saja yang merasakan cobaan yang kau beri?. Tidak kah kau tahu mereka yang menyimpan harta dan yang memakan bukan hak milik mereka banyak bertaburan jumlahnya dimuka bumi ini?. Akankah mereka juga diberikan ujian yang lebih susah atau justru lebih nyaman?. Terkadang aku berpikir bahwa tuhan telah menghinaku, padahal aku baru saja memujiNya atas rasa syukur akan rezekyNya yang ia berikan beberapa hari yang lalu. Akhirnya aku menyadari ini atas keegoisanku, ini bukanlah bentuk hinaan tuhan kepadaku, justru ini bentuk kasih sayangnya. Dia lebih tahu apa yang akan terjadi dibelakang nanti dengan diriku.

Mau tidak mau aku mengikuti segala perintah dari pak RT, rumah itu lenyap dalam sekejap saja selang beberapa hari ini. Barang-barang kami ditempatkan di rumah pak RT, sedang aku, kini aku numpang di rumah tetangga sebelah rumah pak RT. Ternyata benar, bukan rumahku saja yang harus disingkirkan, tapi ada juga beberapa rumah yang harus bernasib sama dengan rumahku. Sedang kabar ayah dan ibu, aku tak tahu sama sekali, semua itu ku serahkan ke pak RT, baik itu pemberitahuan dan lain sebagainya, aku hanya bisa merenung dan berharap saja bagaimana di kemudian hari nanti. Akan nasib pendidikanku atau dengan keluargaku.

*****

            Lengkap sudah penderitaanku. Hidup harus mencari sendiri dan tempat tinggal pun harus pergi, dan kini aku hanya bisa berpindah sana sini, pekerjaanku tetap harus kujalankan, karena memang itu lah takdir yang saat ini yang harus kulakukan. Aku kembali mengarungi jalanan depan SMA HARAPAN itu, meskipun aku bukan muridnya, aku bisa tersenyum dihadapan sekolah itu dan merasa bangga pernah menghirup udara didalamnya. Konyol sekali rasanya, tapi tidak menutup kemungkinan hal itu akan terjadi.

Memang itu semua terasa seperti mimpi. Tetapi Tuhan tak pernah tidur, Tuhan selalu mendengar do’a hambanya. Semula terasa mustahil aku dapat menuntut ilmu di SMA favorit itu. Tetapi nasib berkata lain.

Ketika itu aku dipertemukan kembali dengan orang tua Satria. Beliau bermaksud berbalas budi untuk menyekolahkan aku di SMA tempat anaknya menuntut ilmu karena baginya aku telah menyelamatkan anaknya. Sontak terasa mengejutkan bagiku, aku merasa apakah benar yang diomongkan bapak ini. Seolah ini adalah jawaban do’aku yang selalu kupanjatkan di setiap langkahku, ternyata aku benar-benar mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikanku. Senang bercampur haru, itulah yang kurasakan. Kebaikan papa Satria tak kan pernah bisa kulupakan. Hal yang dulunya kuanggap konyol, bahkan orang-orang akan berkata begitu juga, kini menjelma langsung didepan mata.

****

Belum tentu hal konyol itu seperti apa yang kita ramalkan. Justru cinta akan hal itu yang membuatnya menjadi berbeda. Disaat sesuatu yang dianggap melanggar norma-norma yang berlaku, disaat itu pula norma itu akan menunduk kepada alam.