Setangkai Mawar

Judulnya ku namai dengan setangkai mawar, kau tau kenapa? Ada keistimewaan bila kau melihatnya, trus apa hubungannya dengan solo? Tenang saja kau akan mengerti nanti, tapi ini rahasia kita, kau tak boleh memberitahu yang lain. Hanya untuk kita. You and me!!

Baiklah begini ceritanya;

Kurang dari jam 08.00 dari jogja kami melaju ke tawang mangu, salah satu kabupaten yang ada di kota solo. Kata para ahli “kalau ada waktu sempatkan ke tawang mangu”

Waktu itu tawangmangu sedang musim hujan, untuk antisipasi kami gunakan avanza hitam yang baru saja dijeput dari parkirannya. Ada delapan orang di dalamnya dan tak ada satu pun berasal dari daerah yang sama, apalagi dari solo. Jelas tidak ada, kalaupun ada dari solo karbitan, Solowesi.

“Perjalanan ini akan mengundang kantuk” hembusan AC memanjakan mata penumpangnya, tapi tidak untuk supir, supir tidak boleh terlena, supir tidak boleh ikut dimanja, bila itu terjadi maka haram hukumnya 😀 kami akan terluka semua, dan yang tertinggal hanyalah nama.

Larut di kediaman mimpi yang mempesona tidak merubah posisi tidurku, tetap duduk manis di belakang memiringkan kepala ke kanan sambil menyenderkannya ke bangku, aku tak tahu posisi mereka seperti apa.

Aku juga tak tahu mobil ini sudah berjalan seberapa lama, dan aku juga tak tahu saat ini kami ada dimana. Hanya kenikmatan yang kurasa dan keindahan dunia yang fana.

“Bangun-bangun klas, itu bus yang bertingkat itu” Rizky, teman driver ku itu membangunkan dengan tawaran melihat bus solo bertingkat yang belum pernah kulihat. Kali ini bus itu ada du depan kami katanya, tapi aku tak langsung percaya dengan tawaran itu. “itu hanya alasan mereka supaya bisa membangunkanku” batinku. Mimpi itu sudah dihentikannya, dengan tak mempedulikannya aku memicingkan mata.

“eh bangun kalian, itu mobilnya” mereka yang tadinya tidur mulai menggerak-gerakkan badan setelah mendengar si kaki gajah ngomong lagi, ternyata mereka juga belum pernah melihatnya. Huh. Ruangan ber AC itu sudah mulai bersuara perlahan. “itu tengok tu di depan” sepertinya perkataannya serius aku spontan bangkit dan menyaksikan kebenaran perkataannya.

Oh, kau tau apa yang kulihat kawan? Yah itulah dia, angkutan kota yang hampir punah. Kuabadikan dari kaca jok belakang. Check it!

CIMG0258

Konon katanya bus ini tinggal sepasang. Aku kurang mafhum kemana perginya yang lain.

CIMG0259

Aku sudah mulai legah dan tak lagi kampungan karena sudah menyaksikan icon solo ini di depan mata.

CIMG0261

Kami tak punya banyak waktu, dan harus segera meluncur ke tawang mangu.

Sejak dari situ aku tak pernah lagi tidur, ini moment yang berharga tak boleh dilewatkan. Akan banyak kenangan tercecer jika aku tidur nanti. Kusempatkan menikmati kesederhanaan kota ini di kanan kiriku. Sedang mereka? mau tidur atau tidak aku tak peduli. Kembali terasa keindahan tataan kota ini disaat kami mulai mendekat tawang mangu.

Hamparan sawah mulai menguning berdayu-dayu dihembus angin lembut meringankan proses pematangan, beberapa petani dengan topi kerucut khasnya menggoyang-goyang tali yang tersambung ke alat pengusir burung. Baik itu orang-orangan atau kaleng-kaleng bekas.

Ada yang terlewatkan yang belum sempat ku perjelas, aku melihat patung semar dari pinggir jalan sudah dekat tawang mangu, ia berada di tengah2 luasan rerumputan hijau. Aku tak menyuruh berhenti karena memang kelihatannya patung itu sedang renovasi, beberapa bambu kering menyilangi untuk bisa menaik ke atas. Sebelumnya aku hanya melihat foto teman yang lebih dulu kesana.

Baiklah, mungkin kau sudah bosan mendengar ocehanku ini dan tak sabar menunggu rahasia kita berdua. Kita langsung ke tawang mangu.

Kau tau apa yang kurasakan pertama kali sampai? Bercampur aduk. Pertama; aku mengira kalau ini adalah hutan, yang harus kami jalani bak seorang petualang.

pertama

Kedua; dengan jujur aku mengakui agak sedikit takut melihat monyet-monyet yang main terkam apa yang ada di genggaman orang, bukan hanya satu monyet, puluhan. Sebagian mereka sudah menunggu di pintu masuk berkeliaran..iiiiiii!!!

kedua

keeduaa

Ketiga, naik turun tangga yang minta ampun capeknya, namun merasa terobati disaat di akhir tangga dapat ucapan selamat kurang lebih bunyinya kayak gini. “SELAMAT ANDA TELAH MELALUI 2.500 ANAK TANGGA, SEMOGA SEMAKIN SEHAT”

ketiga

ktiga

Keempat; merasa senang disaat keindahan itu ada di depan mata. Kurang lebih nya begini.

keempat

kkempat

kelima; Merasa sedih disaat kantong kami tak cukup untuk membeli sate kelinci dan makanan lainnya yang ada di kawasan itu, hingga akhirnya kami hanya mengandalkan bekal yang tak seberapa namun harus dapat semua. Seperti apa pembagiannya seperti inilah.

kelima

ke lima

Keenam; Tenaga itu pulih kembali setelah bertemu dengan air. Benar-benar Nikmat.

ke enam

keenam

keeenam

Perjalanan itu kami akhiri di kolam ini, setelah itu pulang. Sebenarnya tidak langsung balik ke jogja, kami sempatkan mampir ke makam presiden Soeharto di puncak gunung yang di potong. Tapi sudah lah, mungkin kau sudah bosan dengan tulisan-tulisan yang mengirikan ini karena kebelet mau tau rahasianya kita.

Rahasia itu terletak di keindahan kota solo. Sejak postingan di Hati-hati Kalau ke Solo aku sudah meletakkan kekagumanku pada kota ini, mulai dari budayanya, penataan kota, event yang terselenggara, kuliner, buah tangannya, semuanya benar-benar punya nilai tradisi leluhur yang tak sirna dari peradabannya. Good!!

Sekarang ijinkan aku untuk bercerita tentang setangkai mawar. Jika kau perhatikan setangkai mawar maka kau akan mendapati duri sekujur batang itu. Apa kau tau kenapa ada durinya dan apa maksudnya? Ya, untuk melindunginya, kenapa ia dilindungi? karena ia indah. Semakin indah sesuatu itu semakin tinggi tingkat keamanannya.

Begitulah kota solo, semakin ia dikenal dunia maka ia bak setangkai mawar yang anggun di atas kelopaknya. Kau akan merasa bangga disaat mengunjunginya, disaat kau ada di dalamnya kau akan merasakan keindahan dan semerbak aroma yang tak luput dari ingatanmu. Hingga saat berkumpul dengan orang sekitarmu aroma yang kau bawa akan mewarnai mereka.

Begitulah kota solo, bak setangkai mawar yang merekah di pagi hari, selalu menenangkan jiwa bila kita memandangnya, selalu menebar kedamaian kepada siapa pun, menunjukkan kesederhanaan di setiap sudut kehidupan nan istimewa, tetap terjaga dengan nilai-nilai leluhur yang dimilikinya, hingga ia benar-benar terwujud menjadi spirit kebudayaan yang berlandaskan kebersamaan. Go Solo!! Spirit of Java.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s