Sindrom itu sebuah penyakit, penyakit yang ada di dalam diri seseorang. Penyakit yang bagaimana? Ialah penyakit yang tidak tahu darimana datangnya namun sangat sulit untuk disembuhkan. Semakin lama penyakit ini dibiarkan maka akan semakin susah untuk disembuhkan. Apakah ia akan menyebabkan kematian? Ya, kematian jiwa. Untuk itu berhati-hatilah setiap akan melewati perlintasan kereta api, di lokasi lain masih banyak perlintasan yang tidak dijaga dan tidak berpintu. Eh kok malah ngawur 😀 Maksud saya berhati-hati dengan sindrom, sepele namun mematikan. Oke langsung aja.

1.     Sindrom selebriti

Penyakit ini ada di urutan pertama karena ini memang yang paling parah. Kehidupan selebriti sudah menjadi suatu idaman,

  • hidup bermegah2an,
  • terkenal,
  • pengen diliat orang
  • bisa masuk tv, dll

apa tidak boleh? boleh, itu manusiawi. Tapi ketahuilah jika itu kita jadikan tolak ukur kesuksesanmu, tanpa disadari kita akan lumpuh sendiri. Jika kita tak mampu, jangan, yang ada malah jadi orang karbitan. Intinya jangan memaksakan diri jika tak sanggup. Kalau bahasa al-ustadz ai dimas, hyper-reality apa yang dikerjakannya tidak sesuai dengan realita kehidupannya.

2.      Sindrom Rasa

Banyak rasa dalam dunia, rasa apel, rasa mangga, rasa anggur dan itu nikmat sekali rasanya, tapi rasa manusia jauh lebih nikmat. Apa yang kau rasakan disaat jatuh cinta? Oh indahnya. Apa yang kau rasakan disaat patah hati? Oh gondoknya. Artinya rasa itu bisa menyenangkan namun bisa pula membahayakan. Disaat orang merasa disakiti, belum tentu yang menyakiti menyakiti, jangan merasa dulu tersakiti dulu. Intinya perlu diteliti dulu kebenarannya, yang ada ketika perasaan itu terjalin.

  • Akan timbul hubungan yang tidak baik
  • Melanggar ajaran agama yaitu buruk sangka
  • Akan merugikan diri sendiri, mutung2 gak jelas

Saat perasaan itu terus menerus mengalir, timbul lah perasaan yang lain. Gak enak sama ini, gak enak sama itu, gak mau ini, gak mau itu, dan dalam selang waktu itu akan menjatuhkan diri kita sendiri. Perasaan juga bisa merugikan orang lain & menghambat rezeky loh? Coba aja perhatiin disaat perasaan gak enak sama orang yang belum tentu kebenarannya. Suatu saat ada tawaran yang melalui perantara orang, “ah gak enak ah” lewat lah. Hahaha

3.      Sindrom Raju

Sindrom ini ada di urutan ke-3 artinya masih banyak yang mengidap penyakit ini. Raju; Raja dan ratU. Tak sedikit orang tanpa disadari mencitrakan dirinya bak seorang raja, menganggap dirinya berkuasa, kuasa akan diri orang-orang disekitarnya. Berlagak seorang raja di singgasananya sambil tertawa2 di kelilingi selir2nya. Bila ada masalah tinggal panggil awak kerajaan dan bila peperangan terjadi maka ia siap menunggu di belakang. Kalau diijinkan flash back ke jaman kenabian, sepertinya belum ada komandan perang yang ngumpet di belakang, justru ia yang dluan maju. Begitulah.

Intinya berhentilah untuk meninggikan derajat di depan orang2.

  • Gak usah sok2an dihormati
  • Gak usah berlagak di senangi
  • Gak usah sok menghakimi

Biasa aja, biarkan waktu dan prestasimu yang mengabarkan mereka. berhentilah untuk mengumbar2kan keelokan diri. Keelokan itu akan dilihat dari pekerjaan yang kita selesaikan. Seelok2nya raja ia yang mampu bekerjasama, mengayomi, dan memakmurkan masyarakatnya. Setarakan frekuensi. Kesetaraan akan menunjukkan kalo kita menghargainya, karena kita menghargainya balasannya penghargaan juga.

4.      Sindrom Pamer

Mungkin semuanya sudah tau kalau penyakit yang atu ini. Suka pamer. Penyakit ini hampir mendekati sindrom selebriti, sedang menuju kesanalah ceritanya. Biasanya yang suka di pamer2kan itu berupa barang2 berharga yang dimilikinya. Coba praktekkan. Bayangkan barang yang mau dipamerin itu kita pamerkan ke orang yang kita belum tau kapasitasnya.

Apa yang terjadi disaat dia ngomong “ah aku udah punya dari dulu kalo yang itu” yang ada Cuma malu. Bagaimana kalau ternyata kita pamerin ke orang yang belum punya? Dia bakal ngomong “oh iya” Cuma gitu aja? Ya. Dengan wajah biasa2 saja. Mungkin ada juga sebagian sambil sakit hati, atau dengan segala perasaan yang dialaminya disaat kau memamerkannya.

Beruntunglah jika kita menemui mereka yang menjawab dengan biasa2 saja, dibanding yang menjawab dengan keapikan loby lebay nya. Bahaya!! Bisa menimbulkan ketakabburan.

Disamping itu, sindrom pamer juga masuk kategori perlakuan yang tidak diperbolehkan dalam agama, bahkan ia sudah menduduki posisi hal yang paling di takutkan oleh nabi kepada ummatnya. What is it? Riya (Bukan Ria, kalau Ria ini ketua IKRH)

5.      Sindrom oto

Sindrom oto lebih dikenal dengan takut keliatan bodoh. Ini yang sering terjadi pada mahasiswa. Ada 3 kemungkinan disaat guru meminta bertanya bagi yang belum paham. Pertama; tidak tahu. Maksudnya tidak tahu apa yang mau ditanyakan. Mungkin udah paham semua, jadi tak ada yang perlu ditanya lagi. Kedua; Malu. Malu dengan teman2nya, malu terdengar suara emasnya dan malu-malu lainnya. Ketiga; Tidak tahu Malu.

Fokus kita yang ke dua. Malu, sebenarnya dia bukan malu. Tapi takut keliatan bodoh, malu kalau ternyata yang ditanyakannya itu sudah diketahui teman2nya. Malu kalau yang ditanyakannya itu hal sederhana yang sudah diketahui banyak orang, namun dirinya sendiri yang belum tahu, “jadi malu lah. Nanti tau orang itu kalau aku yang itu belum tahu” 😀

Di awal sudah di singgung, bahwa sindrom itu adalah penyakit yang tidak tau dari mana asalnya, namun disaat itu terus berlanjut maka semakin sulitlah ia untuk disembuhkan. Sudahlah akui saja kalau memang kita ini bodoh, memang manusia yang dilahirkan tak ada yang langsung pintar. Toh orang2 yang dulunya dianggap bodoh karena banyak tanya nya sekarang menjadi sosok yang dihormati dan disegani. Hmmm. Oh saya ini bodoh ternyata, makanya harus belajar. J

6.      Sindrom Kolektif

Rabun wabah kolektif. Penyakit yang di derita hampir semua rakyat indonesia. Jarang kita berbuat untuk orang, masih suka bersifat individual. Hal yang paling sederhana ialah buang sampah pada tempatnya. Coba bayangin kalau semua orang buang sampah pada tempatnya, gak akan banjir itu jakarta. Sederhana!!

  • Kita sadari bahwa diri kita sebagai bagian dari sebuah mesin besar yang bernama bangsa Indonesia.
  • Mesin besar itu harus bergerak, harus berfungsi dengan baik. Maka semua bagiannya harus berfungsi dengan baik.

Intinya berbuatlah untuk orang, tanpa harus mengurusi orang. Berbuat dengan niatan perlakuanku untukku dan negara. Cerminkan diri dengan pekerjaan yang nyata, sudahi protes dan dan buktikan dengan aksi yang nyata, berbuat untuk negara berkarya untuk kemajuan bangsa. Itu intinya.

7.      Sindrom Beibh

Sampai sekarang aku tak paham dengan sebutan beibh. Maka kita ganti aja dengan sindrom sayang. Sayang dengan wanita pria? Ya, tuh ayah omak.

Tapi sindrom sayang kita bukan yang itu, sindrom itu disaat kita berkata “ah sayang ah, nanti habis” dan bla bla bla dengan beribu alasan masing-masing. Sayang kalau ia harus kehilangan sesuatu, sayang kalau nanti habis, sayang kalau nanti hilang, dan sayang-sayang yang lain. Disaat sayang itu masih tertanam dalam diri, maka putuslah satu anak tangga untuk meningkatkan kualitas diri kita. Intinya disini

  • Jangan pernah merasa memiliki
  • Semua ini hanya titipan ilahi
  • Dengan ikhlas mari kita mulai hidup baru
  • Tawakkal

Tak ada yang perlu disayangkan, dengan mengingat bahwa semua ini hanyalah titipan akan memulai langkah untuk perlahan sembuh dari sindrom sayang ini. Taukah pekerjaan apa yang paling ikhlas? Tukang parkir. Mau mobil semewah apapun, mau motor segede apapun dia tak pernah merasa memiliki, namun ia tetap menjaganya dengan apik. Tidak merusaknya dan tidak melukainya. Dia menyadari itu semua adalah titipan yang diamanahkan ke dia yang dalam jangka waktu dekat, sang pemilik akan kembali mengambilnya. Dan dia meyakini disaat yang dimilikinya di tarik kembali oleh yang punya ia akan mendapatkan gantinya plus uang makannya.