Alam tak kenal toleransiAlam tak kenal toleransi. Alam tetaplah alam, tak akan berubah jadi manusia. Dia tidak akan mengenal tanda-tanda dari manusia. Dan dia tidak akan mendengar perintah darimu.

Pagi itu sudah menjelma menjadi hal yang menakutkan. Kami takut jika ia menyentuh. Bukan karena apa, tapi karena tak tahan. Tak tahan dengan suhunya yang membekukan. Benar-benar mengkebaskan tangan dan sekujur tubuh.

Perjalanan ini tak akan menjadi hal yang sia-sia seperti sebelumnya. Paling tidak ada hal yang baru untuk dipelajari. Kami mulai meniti pecahan-pecahan batuan yang menahan licinnya tanah liat itu. semakin jauh bukan lagi meniti, namun menginjaki pilahan batu-batu itu untuk dapat kokoh menahan beban diri yang siap menerjal perbukitan itu.

Semakin keatas tekanan udara akan semakin rendah, pertanda akan semakin susah bernafas. “Tangan yang hanya berbalutkan kantong jaket ini tak akan mempan melawan suhu sikunir” begitu menurut ibu-ibu penjual angkringan itu.

Bukan hanya disitu. Kini tanganku mati rasa, susah digerakkan dan tetap akan menuai rasa kebas yang tak berhujung. Saat kami makan, hingga selesai. Saat kami beranjak dari maqom satu ke lainnya, akan tetap bernilai sama.

Ini bukti alam tak kenal toleransi. Alam tak peduli apakah tangan itu terbalut sarung tangan, atau hanya berbalut kantong jaket. Alam tak mengenalnya. Yang membawamu pada rasa-rasa itu adalah keteledoran kami. Mungkin kami belum siap total untuk berteman dengannya. Kami menyadari persiapan kami yang sangat minim.

Alam tidak pernah memilah rupa dan harta dalam berteman. Dia hanya akan bertanya. Siap atau tidak. Kalau ingin pertemanan itu berlanjut lama maka siapkanlah. Kalau tidak, tetap kau akan digilas. 😀