Ketika mendengar kata nuklir, banyak dari kalangan masyarakat mengira bahwa nuklir sangat membahayakan, sebagian lagi ada yang langsung berpikir tentang bom atom, kemandulan, dan sebagainya. Baiklah mari kita lanjutkan!

Pernyataan bahaya itu tidaklah salah jika nuklir tidak dikendalikan dengan baik. Hal semacam ini tidak hanya berpengaruh dalam nuklir, akan tetapi segala sesuatu jika tidak dikendalikan dengan baik akan membahayakan, kita ambil contoh sederhana yakni; mobil yang sering kita lihat di jalanan.

Apa yang terjadi jika mobil tak bersupir namun ia tetap berjalan dengan kecepatan 100 km/jam? Apa bisa? Ya bisa. Tinggal diletakkan saja benda yang mampu menekan gas hingga kecepatan yang diinginkan. Berbahaya bukan sih? Jelas berbahaya, bisa-bisa akan melayangkan puluhan nyawa, jangankan tanpa supir, ada supirnya saja jika tidak dikendalikan dengan baik juga akan melayangkan nyawa manusia.

Ini yang sering terjadi beberapa dekade belakangan ini, mulai dari bus, sepeda motor, sampai mobil lancer AQJ yang jadi perbincangan panas di media, itu semua akibat kurangnya pengendalian.

Bukan hanya kenderaan, diri kita pun tanpa adanya pengendalian dari hati, pengetahuan, keluarga, lingkungan, dll juga bisa membahayakan. Apa yang menjadi dasar manusia menjadi brutal (mencuri, membunuh, merampok, dan kejahatan lainnya)? Kurangnya pengetahuan agama yang dimiliki sehingga hati tidak mengendalikan hawa nafsunya yang membahayakan. Gitu!!

Trus apa bedanya dengan nuklir? Tidak ada beda bukan? Sama-sama butuh pengendalian yang baik untuk dapat menghasilkan sesuatu yang baik pula.

Sebelum mengoceh panjang lebar tentang bahayanya atau tidaknya nuklir, ada baiknya kita mengetahui apa sebenarnya yang dimaksud dengan nuklir. Dalam buku “Al-Qur’an dan Energi Nuklir” Wisnu Arya W menyebutkan kata Nuklir diambil dari bahasa inggris yaitu: Nuclear yang berarti inti atom.

Bersambung…