Terdengar sederhana namun banyak makna yang belum tergali. Meski tak semua orang selera membahas tak jadi masalah selagi tangan ini hati dan pikiran berjalan dengan ketulusan untuk sebuah arti yang terkandung dalam sebuah goresan tinta. Ada satu pertanyaan yang perlu dijawab, kapan terakhir belajar sepeda? Mungkin jawabannya adalah disaat belum bisa. Waktu masih kecil. Waktu mau dibelikan sepeda, dll.

Berwisata ke Kota Binjai bersama - TourMedan.com
Berwisata ke Kota Binjai bersama – TourMedan.com

Sepeda pertama kali ditemukan oleh Karl Drais, seorang kepala pengawas hutan baden yang berinisiatif membuat sesuatu yang mampu menunjang efisiensi kerjanya, dia sadar untuk mampu menjangkau hutan secara keseluruhan dia tidak mungkin berjalan menggunakan kakinya, harus ada cara yang mempu menunjang mobilitas kerjanya yang tinggi. Pada tahun 1818 Drais membat alat transportasinya sendiri berupa batang kayu yang terhubung oleh dua buah ban tanpa pedal seperti sekarang ini. Jadi Drais hanya menggunakan kedua kakinya untuk menghasilkan gaya yang mendorong sepeda itu berjalan. Namun berkat inisiatif Drais ini pula sekarang banyak bermunculan model sepeda dengan segala kelebihannya.

Sudah semacam sebuah kewajiban belajar bersepeda diwaktu kecil, tanpa ada paksaan tapi karena melihat teman tetangga yang terlihat keren dengan kayuhan sepedanya, dari situ mulailah untuk merayu dengan tangisan bermaksud meluluhkan hati orang tua untuk beli sepeda. Ada banyak cara dalam kehidupan yang berbeda untuk bisa bersepeda, bahkan ada juga yang tak punya sepeda. Di perkotaan, anak-anak komplek saling berlomba, riang gembira dengan keramaian mereka menyusuri jalan yang belum pernah mereka jalani berjalan kaki, di pedesaan, anak-anak berlomba dengan sepeda mereka yang kurang proporsional dengan postur tubuhnya, bukan faktor kesengajaan membeli sepeda yang terlihat lebih besar, tapi karena hanya itu yang ada, sepeda yang sehari-hari dipakai kepala keluarga untuk menghidupi rumah tangga.

Bukan besar kecil sepeda, wong ndeso atau wong kota, tua atau muda, semua orang mampu bersepeda, belajar bersepeda itu belajar keseimbangan, seperti kata seorang ilmuwan kondang yang bernama einstein yang ditulisnya dalam sebuah surat untuk anaknya, Eduard “ Hidup itu seperti mengendarai sepeda. Agar tetap seimbang, kau harus tetap bergerak ”. Bersepeda itu belajar berproses, jatuh bangun, terluka adalah hal yang memang pasti terjadi. Meski demikian bersepeda tetap dinikmati dan malah bukan ditinggalkan, karena kita tahu bersepeda adalah sebuah kebiasaan baru yang akan mengundang kesenangan berikutnya.

Jalan-jalan naik sepeda
Life is Not Only Like Riding Bicycle But More Than it

Hal yang ditakuti ketika belajar bersepeda adalah jatuh, sakit, dan terluka. Maka dari itu kenapa anak kecil dibelikan sepeda yang kecil diawal belajarnya mengendarai sepeda. Tak cukup disitu, ada roda tambahan di kanan dan kirinya sebagai penyangga sehingga kemungkinan untuk jatuh akan lebih kecil. Sehingga jatuh bukan lagi menjadi hal yang ditakutkan akan tetapi kesenangan untuk terus melakukan, dan terus mendayung tanpa lelah. Sama halnya dengan mereka yang langsung menggunakan sepeda besar seperti anak desa yang disebutkan diatas, peran pemandu yang setia duduk di belakangnya akan mengobati ketakutannya. Tapi lihatlah ketika mereka sudah mulai senang melakukannya, tiada hari tanpa sepeda, perlahan akan mulai merasa seimbang dan dimulai lah perlahan di lepas roda samping kanan maupun kiri. Disaat keseimbangan itu sudah kokoh barulah mereka betul-betul menikmati arti keseimbangan yang dilaluinya.

Tempat Wisata di Medan dan Sekitarnya - TourMedan.com
Tempat Wisata di Medan dan Sekitarnya – TourMedan.com

Dan yang menarik dari belajar bersepeda adalah ia sangat dekat dengan belajar alamiah di kehidupan. Tanpa disadari saat belajar pertama kali kita mengayuh pedal di titik itulah kehidupan baru akan dimulai. Kuat tidaknya niatan kita untuk mendorong dayungan pertama akan menentukan keseimbangan dan kemantapan hati kita untuk menyeimbangkan badan, percayalah. Begitu pula sebenarnya mengarungi bahtera kehidupan ini, yang dibutuhkan hanya keseimbangan, antara pikiran, hati dan perbuatan. Keseimbangan duniawi dan ukhrawi. Mampu mengontrol jiwa kita, mengerti kapan harus mendayung dan kapan harus mengerem, kapan harus maju lagi dan kapan harus berhenti. Sementara kesakitan, kekecewaan sudah menjadi materi yang harus dihadapi. Ketahuilah bahwa untuk menjadikan diri kita seseorang yang baru dengan keseimbangan baru adalah hal yang langka. Sedangkan untuk bisa mendapatkan hal yang langka bukanlah yang mudah. Butuh pengorbanan dan ketekunan, dan ketekunan tak kan mungkin bisa dijalani tanpa merasa ada kesenangan dalam menjalaninya.

Ketahuilah bahwa belajar bersepeda di waktu kecil adalah untuk bisa menaiki sepeda yang lebih besar nanti, belajar bersepeda di waktu besar bukan pula untuk terus menerus kita akan menggunakannya, akan tetapi sebagai persiapan di jenjang berikutnya, motor atau mobil. Butuh keberanian dan pengalaman untuk mampu naik kelas. Semacam hukum ini akan berlaku dimanapun dalam konteks apapun. Cobalah!!!