What’s chat application in your country?

Pertanyaan ini saya ajukan ke teman yg berasal dari Vietnam stelah selesai mengikuti short training tentang big data.

Setelah acara selesai otak saya masih terngiang2 tentang penjelasan presenter di ruangan tadi. Yang lebih seru nya ketika membahas tentang big data nya WeChat, raja nya aplikasi chating di China yg punya user 90% dari populasinya. Data apa saja yang mereka olah, sehingga bisa memetakan interest, insight user yang akan di gunakan untuk monetization berupa iklan.

Makanya kalau dilihat2 iklan di WeChat itu gak banyak, paling cuma 2 iklan saja per hari. Tidak seperti Ig dan FB yg tiap 5 scroll iklan dan 2 profile swipe iklan, bahkan 1 profile swipe. Tergantung aktivitas user, kalau suka liatin story’ everyday, bisa dipastikan 1 profile swipe pasti iklan.

Kembali ke pertanyaan diawal. What’s your chat application in your country? Sebelum dia menjawab saya coba untuk menebak, WeChat? Melihat raut wajahnya yg kayaknya bukan WeChat saya coba menambahkan “Or WhatsApp?” Saya dalam hati “ah kan sama2 southeast Asia pasti gak jauh2 dari WA kayaknya. “WhatsApp ya” kata saya.

Tidak lama kemudian dia jawab “Hmmm not really” katanya sambil agak mikir2. Mendengar hal ini saya jadi tak mau menebak lagi and just let him tell about it.

“Actually we have our own chat application, its zalo, some people might be use WeChat and WhatsApp but I think its not so many, rather than zalo” Mendengar dia ngomong gitu saya tambah excited.

Dan Malam itu pun jadi seperti pagi lagi. Otak saya pun tak mau stop, malah makin banyak pertanyaan yang muncul.

“If we rank it, whats the 1st and 2nd?”
“Zalo is 1st, and after that fb messenger, and zalo is familiar among Vietnamese.”

Ini menarik, di sepanjang perjalanan saya berpikir kok bisa ya. Dari jumlah populasinya yang hampir 100juta 90% nya punya zalo.

Saya langsung mikir, Indonesia kapan bisa gini ya? Punya aplikasi buatan sendiri dan berkuasa di negerinya sendiri. Bahkan ternyata zalo bukan lagi untuk orang Vietnam saja, akan tetapi setiap turis yang berkunjung ke Vietnam pun di anjurkan untuk install zalo. Makanya kalo dilihat jumlah install nya 100juta+.

Indonesia kapan bisa gini ya? Tak lama kemudian saya pun teringat aplikasi besutan mas menteri pendidikan yang sudah sampai ke Vietnam, GoViet.

Otak ini muter2 lagi, kira2 7-8 tahun yang lalu sudah pernah ada aplikasi chat yg sempat digadang2 karya anak bangsa, saya lupa namanya, tapi ingat warna aplikasi itu, biru.

Pernah juga lihat di kick Andy kalo gak salah ada aplikasi seperti WA yg bisa share document dalam jumlah besar, kira2 bisa sampai 500MB to 1GB lupa juga namanya, tapi ingat warnanya, orange.

Ada juga anak SMA atau SMK itu yang sempat viral bikin aplikasi begini. Tapi sekarang kemana ya?

Kita balik ke aplikasi GoViet, Yang mana sebagian saham nya dimiliki Go-Jek. Gojek di Indonesia sudah di install lebih dari 40% populasi Indonesia atau mungkin lebih kali ya, yang komunikasi antar penumpang dan tukang ojek nya sudah melalui chat.

Ini peluang buat gojek untuk membuat GoChat. Yang akan menjadi aplikasi chat Indonesia, seperti zalo milik Vietnam tadi. Yang menguasai 90% pasar lokal.

Bayangkan kalo GoChat muncul, lebih dari 100juta orang di Indonesia sudah terhubung, dan dalam waktu 5 tahun ke depan bisa2 150juta pengguna, WhatsApp dan telegram bisa geger itu. Tapi sebentar, kayaknya gak mungkin deh.

Denger2 om Zukerberg dan Paypal udah masuk Gojek ya? Jangan2 om Zukerberg udah kepikiran duluan ya? Bukan cuma mau masukin fbpay dan paypak ke GoPay, tapi juga supaya jangan ada GoChat. #embuhlah