Dulu itu, ketika merasa demotivated biasanya saya suka browsing film entrepreneur. Itu salah satu jalan saya mencari inspirasi, saya perhatikan betul tiap kata di film itu dan merenungkannya.

The pursuit of happiness pun masuk dalam rekomendasi dari para blogger, yang katanya film tentang pialang saham, seperti the God father yang dibintangi aktor terkenal itu.

Saya lihat cover filmnya, seorang ayah (Will Smith) duduk di bangku panjang taman memegang tas jinjing jaman dahulu bersama anak kecil. Waktu itu Menurut saya tidak menarik sama sekali, tidak seperti cover film enterpreneur yang lainnya. Akhirnya tidak jadi di tonton.

Jangan ditanya dimana menontonnya, Anda sudah tahu. Tentu bukan di bioskop. Dari tempat kami harus menempuh jarak 59km baru bisa nonton bioskop, tapi bukan orang Indonesia namanya kalau tidak ada solusinya. Internet!.

Kembali ke Film the pursuit of happiness. Saya mendengar cerita inspiratif tentang Earvin “magic” Johnson dengan Chris Gardner yang sudah saya tuliskan disini (koran pagi). Agar ceritanya lebih seru dan autentik, saya coba riset kecil-kecilan apakah mereka berdua memang pemain basket profesional dan enterpreneur. Dan ternyata ditemukan benar adanya, bahkan kisah Chris Gardner itulah yang diangkat jadi film the pursuit of happiness.

Mengapa Earvin magic Johnson memilih Chris Gardner sebagai mentor bisnisnya, ternyata memang karena background Chris Gardner yang dikenal sebagai financial planner untuk para pegawai perusahaan yang akan pensiun, cerita ini ada di film tersebut, ketika itu Chris sedang internship di Dean Witter, perusahaan pialang saham yang akhirnya menjadi tempat ia bekerja sebagai pialang saham, sebelum akhirnya mendirikan perusahaan nya sendiri Gardner Rich & Co.

Hal yang menarik lagi dari kisah Chris Gardner, pada saat ia dan istrinya memutuskan untuk menginvestasikan seluruh tabungannya untuk membeli alat kesehatan yang cukup mahal dan belum familiar pada saat itu. Yang akhirnya membuat perputaran uang nya sangat lambat.

Dia hanya perlu menjual satu alat untuk bisa menghidupi keluarganya satu bulan. Anda sudah tahu, ia belum tentu bisa menjual satu alat dalam sebulan, tapi bisa jadi bulan depan laku dua unit.

Situasi tak menentu ini yang membuat konflik dalam keluarganya, hingga akhirnya pun istrinya memilih untuk meninggalkannya dan anaknya, tentu atas permintaan Chris agar anaknya tetap bersamanya.

Suatu pagi Chris lewat di depan kantor Dean Witter, dia melihat seseorang memarkirkan mobil Ferrari tepat di depan kantor tersebut. Chris yang harinya ceria pun menyapa pemuda itu dan bertanya.
“Apa yang kamu kerjakan sampai bisa punya mobil sebagus ini”
“Saya adalah pialang saham” sambil menunjuk ke arah kantor Dean Witter.
Disini awal mula titik balik Chris untuk merubah kehidupannya yang lebih baik.

Singkat cerita, Chris memutuskan untuk mengikuti internship di Dean Witter, yang ternyata tidak ada gajinya. Dia tidak punya pilihan, sabar dan tetap ikut internship dan berharap bisa lulus dan bekerja di Dean Witter sebagai pialang saham. Dan akhirnya dia diterima sebagai pialang saham di Dean Witter dan dapat gaji.

Sahabat, ada banyak pelajaran yang bisa kita petik dari film ini. Bagaimana cara Chris dan anaknya bertahan hidup, pindah satu tempat tidur ke tempat tidur lainnya. Dari satu dokter ke dokter lainnnya menjual scanner miliknya itu. Dari satu CEO ke CEO lainnya menawarkan pengelolaan dana pensiun karyawan.

Chris ingin jadi pialang saham, tapi ia harus tetap bertahan, ada anak yang harus dihidupinya. Maka ia jadi penjual scanner. Uang hasil scanner itu yang menghidupi mereka berdua. Dean Witter jadi kendaraannya untuk jadi pialang saham. Kepribadian dan komunikasi yang baik jadi senjatanya untuk menarik pelanggannya. Ketiga inilah yang membuatnya dinobatkan sebagai enterpreneur of the year, father of the year, dan penghargaan lainnya. (IG @ai.ikhlas)