Pikiran ini tak ada lelahnya bila terus diikuti, terus mencari sampai kemanapun sampai akhirnya berhenti untuk menyelami diri sendiri. Dan membenarkan keberadaan diri diri sehingga tidak lagi mengukur diri dari sudut pandang orang lain. Mengukur dari keberhasilan orang lain. Seakan2 tidak lagi mengakui keberadaan diri sendiri dengan tidak melihat kembali ke dalam diri potensi2 yang dimiliki.

Lupa bahwa tuhan menciptakan manusia itu tidak lah semuanya sama, namun memang jalan bisa saja sama tapi perlu kita tanyakan kembali pada diri kita ttg kecocokan jalan yang akan kita tempuh antara diri dan jalan itu, bila yang terjadi adalah kesenangan dan terasa keentengan dalam menjalankannya maka jalan itu bisa jadi pilihan yang tepat.

Tapi bila yang terjadi dalam diri adalah berat untuk menjalankannya berarti jalan itu belum cocok untuk kita saat ini. Tapi nanti, duatu saat. Dikala waktu, moment, dan keadaan semua sudah bersahabat kita coba ulang menjalani jalan itu. Kalau mereka bilang “not for love but from love” maksudnya untuk tidak berbuat karena cinta kita kepada sesuatu, tapi karena cinta kita yang muncul dari diri sendiri. Itu benar.

Iklan