Aku membuntutinya setelah keluar dari kamar mandi. Lantas pemuda ini perlahan meninggalkan tempat pendaratan pesawat itu. Melewati petugas yang memeriksa ulang barang bawaan penumpang, dia seolah tak bersalah. Petugas pun membiarkannya lewat begitu saja. Aku ikut di belakangnya, seakan aku adalah rekan kerjanya tanpa sepengetahuannya.

Kini bebas dari belenggu petugas barang. Jejeran penjeput sudah siap membawa klien yang mereka tunggu-tunggu. Aku berpikir pemuda ini pasti menunggu jeputan. Supir taksi, supir hotel, ataupun supir pribadi. Begitulah anggapanku. Sesuai dengan pakaian yang dikenakannya sekarang. Agak sedikit necis dan berwibawa.

Namun ternyata salah. Pemuda ini sama sekali menghiraukan tulisan-tulisan hitam yang tertulis di kertas putih yang di angkat-angkat oleh supir-supir itu. justru ia bersandar di tiang bangunan itu di pinggiran jalur taksi.

“Oh, mungkin mau naik taksi” pikirku.

dia menggantungkan jaket coklat miliknya di tali sandangan bawah tasnya. aku tak tahu seperti apa itu. tapi aku harus ku akui, gayanya yang maco, namun berwibawa.

tanpa disadarinya aku terus membuntutinya bak “Agen Rahasia”. beberapa supir taksi terus menerus menawarkan padanya. namun tak satu pun yang ku lihat tawaran yang di terimanya untuk mengantarkan ke tujuannya. aku tetap positif thinking kalau pemuda ini sedang menunggu jeputannya. entah lah. aku semakin penasaran.

akhirnya pemuda ini beranjak dari posisinya setelah lama bersandar di pinggiran jalur taksi itu. kau tau kawan kemana ia beranjak? ternyata ia beranjak ke parkiran mobil di bandara itu. menyeret-nyeret koper miliknya sembari menjinjing kotak indocaffe yang ku katakan tadi sambil memunggung tas sandang top brand itu. berat juga, pikirku.

“tidak salah lagi, pemuda ini pasti punya mobil sendiri yang sengaja di parkirnya di parkiran bandara.”  anggapku terus membuntutinya.

lagi-lagi pemuda ini mendapat tawaran dari beberapa supir “taksi (mobil pribadi)” namun tak satupun yang jodoh. namun ada yang aneh dari kejadian itu. sepertinya supir itu merasa kecewa dengan kata-kata yang keluar dari mulut pemuda itu. aku yang dari kejauhan mengamati kejadian itu tak mendengar jelas perbincangannya dengan supir-supir taksi itu.

aku tak banyak waktu lagi untuk terus membuntutinya. aku juga masih banyak kesibukan. aku harus menghadiri meeting di sebuah hotel berbintang di kota ini. pikirku. penasaranku pun tak bisa ku lepas begitu saja sebelum tuntas. aku menghampiri supir taksi yang sempat berdialog dengannya tadi. perlahan ku hampiri supir itu dan menepuk pundak belakangnya.

“eh..” kagetnya

“mau kemana bang?” lanjut supir itu.

“emm.. enggak bang, cuma mau tanya. tadi pemuda itu siapa ya?” tanyaku.

“oohh, itu bang. yaa., penumpang bang, abang itu mau ke jl…….(menyebutkan Nama jalan)”

“terus, kok gak diantar bang..?” tanyaku.

“yah, gimana lagi bang. ongkos kesana itu 60k, masa cuma mau dikasih 15k, ya rugi lah bang”

“oohh… ya udah makasih ya bang”

“oh iya sama2 bang”

aku semakin tak paham apa yang ada diotak pemuda itu. dia terus saja berjalan. aku menertawakan diriku sendiri, hanya karena kebodohanku yang terus mengikuti pemuda “GILA” itu. Kesabaranku sudah kandas. aku berlari kecil menelusuri mobil-mobil itu hingga ke pintu keluar utama. kau tahu kawan untuk apa? ya, untuk menghampiri pemuda “GILA” itu. bertanya apa, siapa dia sebenarnya dan apa yang sedang terjadi dengannya.

“Bang, tunggu bang.” panggilku, seolah aku mengenalnya.

aku yakin pemuda ini juga akan bertanya-tanya dikala dia melihatku. siapa aku, dan apa mauku menemuinya. namun terlihat pancaran sinar ketenangan dan kebahagiaan terpantul dari wajah putihnya yang kurasakan. Adem rasanya ketika bertatapan dengannya. kini aku merasakan sedikit ketenangan. rasa emosi itu reda.

Sinarnya Suci, Bersih, Aku yakin dia bukan orang sembarangan. Tidak menampilkan sosok seorang kiyai, tidak pula seorang haji atau ustadz. Pakaiannya juga bukan seperti para ustadz2 yang memberi ceramah di masjid2. Cuma pakai celana Goyang dan baju kemeja.sudah gitu aja. Gak pakai peci.

“Maaf bang Ganggu, kalau boleh tahu, abang dari mana?”

“Saya, baru mendarat dari Jakarta” jawabnya tersenyum.

“ada yang bisa saya bantu?” timpalnya.

“oh, tidak bang. Mohon maaf ni bang. Saya dari tadi, sejak di ruang loby udah liatin abang terus, saya liat ada suatu hal yang menurut saya tidak biasa dikerjakan orang-orang”

Pemuda itu hanya membalas dengan senyumannya. Aku sama sekali tidak menyadari betul apa yang telah ku katakana padanya. Sepertinya mengalir begitu saja. Andai saja dia seorang teroris ataupun sosok yang membahayakan. Pasti sudah lenyap jasadku di tangannya. Namun sangat berbeda yang kurasakan. Aku merasa tenang, gembira, bebas. Aku sepertinya sedang berhadapan dengan seorang guru yang selama ini ku cari dalam kehidupanku. Energi ilmunya terasa. Sepertinya aku akan belajar suatu hal baru darinya.

Meski terlihat lebih muda, namun aku menyadari belajar itu tidak hanya kepada yang lebih tua. Belajarlah dengan siapapun yang ada di sekitar kita. Itu akan memberikan nilai tambah pada diri lebih cepat daripada harus selektif dalam mencari guru kehidupan.

“Oh, iya kenapa? Mungkin ada yang aneh dari saya? Yuk Ngobrol disitu aja.” Ajaknya duduk di pelataran barisan pohon palm dekat dari kami.

Pemuda ini meletakkan barang bawaannya, sembari duduk menghadap ke mobil2 parkiran. aku duduk berjarak 1 meter darinya agak gugup. Aku menyadari, adalah suatu hal yang aneh jika aku mempertanyakan apa yang telah kulakukan dari tadi. lucu. Dan tidak masuk akal.

Namun aku tetap memberanikan diri, aku sudah tidak punya banyak waktu lagi. Aku menepis segala kemaluan yang melintas dipikiranku. Aku beranikan diri. Aku menceritakan semuanya pada pemuda itu.

Selesai sudah aku mendongeng. Pemuda ini tampak simpatik akan ceritaku. Lagi-lagi dia hanya tersenyum. Tenggorokanku hampir kering, namun hanya dapat balasan senyuman. Tapi Senyumnya menyejukkan. Itu sudah cukup bagiku. Tak apalah.

“Saya heran sama kamu, kenapa sampai mau melakukan hal bodohmu itu. saya ini bukan artis, bukan pula pejabat, bahkan saya juga bukan pemuka agama. Saya hanya masyarakat biasa. Saya ini baru pulang dari Jakarta. Ini barang bawaan saya banyak sekali. Ini kotak isinya souvenir pesanan kakak saya yang mau dijual. Covernya isinya baju saya. Tadinya saya pakai baju, yahh.. gitu dah. Agak trendy dikit. Hehe. Saya mau ke ****** jadi pakaian nya harus rapi. Hehe. Sudah gitu aja. Tadinya saya udah sms temen yang mau jeput saya sebelum berangkat, tapi Allah berkata lain, didaerah teman saya justru hujan lebat, makanya gak bisa jeput. Saya coba sms teman yang lain, namun belum juga ada balasannya. Tapi saya yakin kalau Allah ingin mengenalkan saya dengan segala keagungannya.”

Subhanallah. Malu saya. Gak tahu lagi saya harus berbuat apa. Saya benar2 mendapat pelajaran yang sangat berharga dari pemuda ini. jika dibandingkan dengan saya kepercayaannya, sungguh jauh dibawahnya.

“saya bukan orang penting. Saya hanya tidak punya uang buat lanjutin perjalanan. makanya saya berusaha minta ke Allah dulu sang maha pemilik uang. Saya takut disaat saya terus menerus bergantung sama uang, hingga saya berkata “Tuhanku Uang” Saya hanya tidak ingin setiap langkah saya tidak di ridhoi sama Allah. Makanya saya tadi Sholat dulu. Minta sama Allah, supaya saya disampaikan sampai tujuan dengan segala keterbatasan kantong. Hehe. Makanya banyak tawaran taksi yang saya tolak, bukan karena ada jemputan atau mobil pribadi. Tapi karena gak ada yang mau saya kasih 15.000 ongkosnya. Soalnya uang saya tinggal 15.000. hehe”

Jeddddddeeeeeerrrrrr…… Maluuuuuuu diri ini. kulit dan pori2ku sudah mengeryit karena malu. Pemuda berwibawa. Siapa sangka hanya memiliki uang 15.000 di kantongnya. Aku yakin bukan karena tidak punya Uang. Aku menimpalinya.

“mohon maaf bang. Apa memang sudah tidak ada uang lagi, atau gimana? Maaf. Kalau saya prbadi melihat, tidak mungkin seorang yang berpakaian seperti ini hanya mengantongi uang 15.000”

“oh tidak, ini masih ada 5rb atau 8rb lagi. Nanti buat ongkos saya ke stasiun atau ke terminal. bukan saya tidak punya uang. Di dompet saya ada ATM. Saya hanya tidak ingin mendahulukan Uang terlebih dahulu. Saya yakin Allah itu ada dan akan menolong hamba2 nya yang mendahulukan-Nya disetiap urusannya.” Jawabnya sambil tersenyum.

Aku sudah malu dari tadi, tidak tahu lagi apa yang harusnya kulakukan. Takut salah ngomong lagi. Dan semakin bertambahnya rasa malu ini. Namun aku berpikir lagi tentang rasa malu yang sejak tadi kurasakan.

“apakah memang harus malu” kataku dalam batin.

“ini yang selalu membuatku tidak pernah merasa salah. Selalu menganggap bahwa diriku benar, karena malu mengakui kesalahanku sendiri.” Lanjutku dalam hati.

Aku benar2 telah mendapatkan udara segar hari ini. tidak sia2 rasa penasaranku. Aku melirik ke jam tanganku. Aku sudah terlambat hadir 10 menit, perjalananku ke hotel 10 menit. Dengan artian aku harus telat 20 menit bahkan lebih, sebab macet kota ini hampir seperti di Ibu Kota.

“oh, iya, saya lanjut dulu ya.” Kata pemuda ini.

“oh iya bang, saya juga harus ke hotel lagi. Tapi abang mau naek apa?”

“sudah tenang saja, pasti ada. Ini bentuk ikhtiar saya.” Jawabnya.

Mendengar perkataannya saya hanya bisa mingkem (baca: tutup mulut). Pemuda ini beranjak dari dudukannya sambil menyalamiku.

“hati-hati bang.” Lantasku sambil tersenyum. Dia hanya merundukkan kepalanya dan membalas senyum.

Tepat 7 langkah setelah beranjak persendian parkiran itu, tukang ojek yang baru saja di tolak kliennya menghampiri pemuda ini. benar2 ajaib.

“mau kemana bang?” Tanya tukang ojek.

“mau ke ******, berapa bang? “ timpal pemuda ini. aku masih dapat mendengar jelas dialog antara mereka.

“60.000 aja lah bang, jauh itu bang”

“wah, saya adanya Cuma 15.000 bang. Abg mau gak?”

Sudah bisa ditebak jawabannya. Tidak ada yang bakal mau. Pikirku. Namun benar-benar Allah berkata beda.

“ya janganlah bang. Itu jauh loh. Biasanya ongkosnya emang segitu”

“iya saya tahu, tapi saya adanya Cuma 15.000, gak ada lagi” balasnya sambil tersenyum.

“hmmmm.. yaudah lah bang, kalau emang abang adanya segitu, gak apa2 lah bang, ayo biar saya antar.”

perbincangan mereka sangat jelas terdengar. Tak ada yang meleset sedikitpun. Begitulah adanya. Aku hanya bisa diam terpaku menyaksikan kejadian itu. pemuda itu benar2 Mendahulukan kuasa tuhan nya dibanding kuasa nya. Aku hanya memetik pelajaran dari kejadian GILA ini. ada sedikit rasa bersalah disaat aku mengatakan dia “GILA”. Tanpa rasa sadar, akulah yang sebenarnya “GILA.” Tidak pernah menyadari segala kebahagiaan itu ternyata sangat dengan diri ini. Allah lah jawabannya. Begitulah simpulku.

Tak sampai disini. Pemuda itu masih menyempatkan melambaikan tangan kearahku dan melontarkan senyumannya. Serayak berbisiknya pelan

“awas!!! Tuhanku Uang” katanya memberi peringatan dengan Isyarat telunjuknya.

Perlahan senyumannya hilang dibawa puing2 cahaya di siang itu. tukang ojek itu bak malaikat yang sengaja dikirim Allah untuk pemuda ini. mereka segera melaju dan meninggalkanku yang masih berada tak jauh dari mereka. Aku paham.

Hati sudah lega. Tugasku selesai untuk membesarkan jiwa. bahkan sama sekali aku tidak sadar kalau aku sudah berdiam lebih dari 14 menit. Aku harus segera ke hotel.

“Taksi”

============================

Mari kita analisis bersama, hehe.

Kenapa kok si pemuda itu bisa dapet tuh tukang ojek? Coba kita perhatiin apa yang dilakukannya dikala ia sampai di bandara. Pemuda ini kerap menemui tuhannya dulu, yakni sang pemilik uang, bukan uangnya. Syukur-syukur kita sama seperti beliau ini, yang kerap kali mendaulukan Allah sebelum melangkah.

Ngomong-ngomong, ongkos Rp. 60.000,- kok Cuma dibayar Rp. 15.000,- siapa yang mau coba? Itulah kekuasaan tuhan bermain. Tidak ada yang tahu, entah itu malaikat, atau jin yang diutus Allah untuk menolongnya.

Allah lah yang membayarkan sisa uangnya itu. Bukanlah hal yang mustahil jika pemuda ini tanpa mengeluarkan uang pun bisa sampai pada tujuannya. Begitulah hidup ini berproses. Cobaa aja kita mau mendahulukan Allah, yakin, jamin urusan semakin enteng. Gak perlu yang neko-neko, semuanya Allah yang ngatur, kita hanya sebagai arus yang mengalir.

Semoga ini akan terjadi pada diri kita. Amin!